Civic Education

Kamis, 02 Mei 2013

Teori Kebudayaan Van Peursen



Dalam teori kebudayaan C.A Van Peursen, perkembangan budaya manusia dibagi menjadi tiga tahap, yaitu mitis, ontologis, dan fungsionalis.
C.A van Peursen (1976) mengajukan bahwa kebudayaan terdiri dari tiga dimensi yaitu mitis, ontologis, dan fungsional. Dalam dimensi mitis, relasi manusia dengan lingkungannya bersifat terbuka. Pada dimensi ontologis, relasi manusia dengan lingkungannya bersifat tertutup. Dan pada dimensi fungsional, relasi manusia dengan lingkungan bersifat partisipatif.
Dimensi mitis ditandai oleh manusia yang merasa dirinya dikelilingi oleh gaya tak terlihat disekitarnya. Dimensi mitis disebut juga pandangan ekosentris dimana manusia berintegrasi dengan alam dan dikendalikan oleh alam.
Dimensi ontologis ditandai oleh manusia yang tidak lagi hidup dalam kekuasaan mitis namun bebas untuk memeriksa apapun. Dimensi ontologis disebut juga pandangan antroposentris dimana manusia bersifat asertif dan mengendalikan alam.
Dimensi fungsional ditandai oleh sikap dan kondisi pikiran yang tidak lagi terkesan dengan sekitarnya, tidak lagi mengambil jarak dengan objek, namun ia ingin membentuk hubungan terhadap segala hal dalam lingkungannya. Dimensi ini diidentifikasi sebagai kebudayaan modern.

Tahap Mitis
Manusia menganggap bahwa dirinya adalah bagian dari alam. Manusia merasa bahwa dirinya berada di dalam dan dipengaruhi oleh alam. Hal ini dapat dilihat budaya Indian. Mereka sering menganggap bahwa diri mereka adalah penjelmaan dari hewan di sekitarnya. Pada tahap ini, manusia kerap memberikan kurban atau sesaji sebagai bentuk penghormatannya kepada alam. Manusia juga membuat norma-norma perlakuan terhadap alam. Sehingga hidupnya selalu selaras dengan alam dan dilindungi oleh alam itu sendiri.
Tahap Ontologis
Manusia mulai mengenal agama. Manusia tidak lagi memberikan kurban dan memandang bahwa alam merupakan sama-sama makhluk Tuhan yang harus dijaga kelestariannya. Meskipun begitu, manusia sudah mulai menjadikan alam sebagai objek yang bisa dipergunakan untuk mempertahankan hidupnya.
Tahap Fungsionalis
Manusia sudah jauh dari alam. Bahkan, alam tidak hanya sekedar dijadikan objek, tetapi telah menjadi alat untuk memenuhi kebutuhan manusia agar hidupnya nyaman. Tahap ini ditandai dengan revolusi industri di dunia dan manusia memperlakukan alam dengan mengeksplorasinya secara berlebihan.

Kaitannya dengan kondisi masyarakat pada saat ini
Tahap mitis ialah sikap manusia yang merasakan dirinya selalu terkait bahkan tergantung dengan kekuatan-kekuatan gaib di sekitarnya yang di kalangan masyarakat primitif disimbolkan dalam mitologi-mitologi , misalnya Nyai Rara Kidul dan Ratu Adil. Pola pikir semacam ini tidak hanya berlaku dalam masyarakat primitif karena dalam masyarakat modernpun tidak sepenuhnya hilang. Impliklasi pola pikir semacam ini dalam masyarakat Islam tampak dalam cara memahami , menghayati dan mengamalkan agama cenderung dikaitkan dengan kekuatan-kekuatan gaib yang timbul sebagai dampak dari pengamalan agamanya . Misalnya pemahaman terhadap Hadits Nabi yang menganjurkan kita untuk mengelus-elus kepala anak yatim pada hari raya “ . Hadis ini difahamai secara harfiah , maka banyak kalangan masyarakat kita yang pada hari raya mengelus-elus kepala anak yatim , bahkan secara ektrim mengumpulkan anak yatim , di mana semakin banyak semakin banyak pula pahalanya dan membawa berkah , padahal maksud Hadits tersebut ialah anjuran menyayangi dan membantu anak yatim agar jangan sampai hidupnya terlantar. Contoh lain ialah penggunaan ayat-ayat Al-Quran sebagai jimat dan penonjolan kisah-kisah kekeramatan dan kesaktian para wali juga merupakan bagian dari pola pikir mitis ini.
Tahap ontologis ialah sikap manusia yang sudah mampu melepaskan diri dari ikatan mitologis dan secara bebas ingin meneliti segala hal ikhwal yang ada di sekitarnya dengan akal budinya. Dengan sikap ontolologis ini manusia berusaha menampakkan Yang Transenden ( Tuhan ) dan menjadikannya sesuatu yang dimengerti . Dalam masyarakat Islam jalan untuk menuju pengertian ini ( makrifat ) dipandang sebagai bentuk pengakuan ( keimanan ) dan ibadah kepada Nya. Dengan pola pemikiran ontologis ini menghasilkan bermacam-macam ilmu agama ( Tauhid, Fikih, Tafsir , Hadits , dan Tasauf , dsb.)
Tahap fungsional ialah pemikiran yang menyangkut hubungan dan relasi yang bersifat fungsional . Segala yang ada diukur dari nilai fungsionalnya, di mana hal ini merupakan ciri masyarakat modern . Implikasi pola pemikirran ini dalam kehidupan beragama ialah memandang agama dari segi fungsinya sesuai dengan kebutuhan manusia. Dalam masyarakat modern yang menjadi masalah ialah bagaimana agama ( Islam ) dapat memenuhi tuntutan masyarakat modern , sehingga ia tetap fungsional dan dibutuhkan. Di sinilah perlunya mengoptimlakan fungsi tajdid dan ijtihad yang hakekatnya merupakan kekuatan internal bagi Islam untuk tetap eksis sebagai kekuatan moral dalam menghadapi berbagai perubahan sosial.
Jadi teori perkembangan kebudayaan dari C. A van Peursen masih relevan dengan kondisi masyarakat pada saat ini baik mulai pada tahap mistis, ontologis, maupun pada tahap fungsionalis
Contohnya Peristiwa BENCANA ALAM. Jika diamati, ada berbagai model dalam merespons peristiwa bencana alam ini. Dengan meminjam teori CA van peursen tentang tiga tahapan perkembangan kebudayaan sebuah masyarakat,yaitu mitis,ontologis, dan fungsional, maka ketiga model ini pun sepertinya dapat dipakai untuk menjelaskan sikap masyarakat dalam melihat bagaimana hubungan antara manusia dan alam semesta. Dalam cara pandang mitis, hubungan antara manusia dan alam tidak setara.
Manusia dalam posisi tidak berdaya di hadapan alam. Alam sedemikian perkasa dan misterius karena dia memiliki roh para dewa sehingga manusia harus pandai-pandai berdamai dan membujuknya agar alam tidak marah oleh ulah manusia. Model berpikir mitis ini sudah dipercayai pada masyarakat Yunani Kuno di mana alam termasuk gunung, pepohonan dikuasai oleh Dewi Artemis. Dewi ini juga dianggap pelindung bayi binatang maupun manusia. Karenanya selama manusia menjaga hubungan baik dengan dewi ini, alam akan tenang, aman, dan terlindungi.
Setelah melahirkan misalnya,agar ibu dan bayinya terlindungi dari roh jahat, ditaruhlah berbagai jenis dedaunan dan pakaian si ibu tersebut dibuang sebagai persembahan untuk Dewi Artemis. Atau ada lagi festival pada musim semi Thesmophoria untuk meminta agar kekuatan dewa hadir agar alam menjadi subur sehingga bibit tanaman bisa tumbuh dengan baik. Bentuk upacara keagamaan yang disertai dengan melepas sesajen ke laut sebagai ungkapan permohonan dan terima kasih atas ikan-ikan yang telah ditangkap oleh penduduk sekitarnya atau sesajen ditujukan ke gunung sebagai tanda terima kasih atas kesuburan yang diberikan; juga sebagai ungkapan persahabatan dan bujukan agar gunung tidak marah.
Sesungguhnya itu semua adalah salah satu hasil dari cara berpikir mitis yang mulai muncul sejak zaman dulu. Model kedua disebut sebagai ontologis di mana nalar atau cara pandang ilmiah dipergunakan untuk memahami gejala alam. Pada tahap ini, berbeda dengan model pertama,segala peristiwa alam dijelaskan dengan hukum sebabakibat.
Misalnya, jika pada tahapan mitis peristiwa banjir selalu dikaitkan dengan kemurkaan alam dan Tuhan, maka dengan pendekatan ontologis, dengan nalarnya masyarakat memahami bahwa banjir itu adalah akibat hujan lebat yang tumpahan airnya tidak tertampung dan tidak tersalurkan oleh sungai-sungai yang ada.
Ketika terjadi peristiwa banjir kesalahannya lalu diarahkan kepada manusia dan untuk menebus “dosanya” mereka tidak lagi membuat sesajen (sesaji), tetapi dengan memperbanyak waduk-waduk dan tempat untuk penampungan serta serapan air. Sungai dan irigasi diperluas dan tidak lagi membuang sampah ke sungai atau mereka juga menghindari tinggal di daerah bantaran sungai.
Di sini, posisi manusia dan alam seakan sejajar, keduanya saling berdialog dan membuka diri, yang satu memahami yang lain. Dan sesungguhnya apa yang dilakukan oleh para peneliti dan ilmuwan adalah melakukan pemahaman dan dialog dengan alam agar manusia lebih mengenal karakter alam sehingga dapat mengantisipasi reaksi dan akibat dari segala perilaku manusia terhadap alam. Ini bisa dibuktikan dengan penelitian di bidang obat-obatan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.
Begitu juga terhadap perilaku gunung, dengan penjelasan nalar dan ilmu pengetahuan, dapat diantisipasi apa yang sedang terjadi dan kemungkinan yang akan terjadi pada gunung berapi. Sinyal untuk mendekati fenomena alam secara ontologis sesungguhnya telah termaktub dalam wahyu pertama Alquran,yaitu perintah iqra,yaitu perintah untuk membaca.
Membaca juga terkandung di dalamnya proses penelaahan dan pemahaman tidak hanya terhadap teks tertulis, melainkan juga teks kawniyyah, ciptaan Tuhan termasuk alam dan seisinya. Selain itu kalimat dalam Alquran afalaa ta’qiluun (apakah kamu tidak berpikir atau mempergunakan akalmu) juga merupakan sinyal bahwa hendaknya akal atau nalar dipergunakan sebaik-baiknya dalam membaca dan memahami ayat-ayat-Nya. Adapun dalam model ketiga, yaitu fungsional,manusia menempati posisi lebih tinggi dibandingkan alam.
Dalam hubungan ini manusia adalah pihak yang diberi keleluasaan untuk mendayagunakan alam. Di sinilah fungsi manusia sebagai khalifah yang memiliki misi untuk mengatur alam.Namun dalam hal ini Alquran pun sudah memberi rambu-rambu bahwa bila otoritas ini disalahgunakan, tak pelak lagi akibatnya adalah alam akan rusak (fasad). Dan sesungguhnya dengan ilmu pengetahuan, manusia seharusnya memiliki kemampuan mengantisipasi konsekuensi dari tindakannya yang menzalimi hukum alam.
Bila hutan dijarah secara membabi buta atau serapan air dirampas oleh tumbuhnya hutan beton, alam akan bereaksi dalam bentuk longsor,banjir,dan lain-lain. Bagaimanakah respons yang bijak dalam menanggapi bencana alam ini? Semua bentuk respons, baik yang menyerahkan hal itu pada kemarahan Tuhan atau akibat terganggunya hukum alam karena ulah manusia atau yang lain, tentu saja memiliki argumen masingmasing. Salah satu yang membedakan adalah seberapa besar nalar atau akal berperan dalam memahami gejala alam yang ada.

1 komentar: